Posted by: bankwahabi | April 27, 2008

Imam Besar Wahhâbi; Ibnu Abdil Wahhâb Pamer Kebodohan Dalam Ilmu Hadis

Imam Besar Wahhâbi; Ibnu Abdil Wahhâb Pamer Kebodohan Dalam Ilmu Hadis

Setalah Anda saksikan bagaimana pada artikel sebelumnya: Edisi Terbaru Kebodohan Imam besar Wahhâbi dalam Ilmu hadis,bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb membangun sebuah keyakinan di atas sebuah hadis palsu, kini ia kembali lagi untuk memamerkan kejahilannya akan ilmu hadis…

Dalam Bab: Mâ Jâa Fî Qaulillah Ta’ala/tentang apa yang datang dalam firman Allah –ta’ala-:

وَ ما قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَ الْأَرْضُ جَميعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَ السَّماواتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمينِهِ سُبْحانَهُ وَ تَعالى‏ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”(QS. Az Zumar [39];67)

Sebelum menutup bab tersebut dengan menyebutkan beberapa kesimpulan dari apa yang ia paparkan di dalamnya, Ibnu Abdil Wahhab mengkharinya dengan menyebut sebuah riwayat dari al Abbas ibn Abdil Muththalib dari Rasulullah saw., sebagai berikut:

هَلْ تَدْرُونَ كَمْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ بَيْنَهُمَا مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ سَنَةٍ …

“Tahukah kalian, berapa jarak antara langit dan bumi? Abbas berkata, “Kami berkata, ‘Allah dan rasul-Nya yang meengetahuinya.’ Beliau bersabda, ‘Jarak antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun, dan dari satu langit ke langit lainnya perjalanan lima ratus tahun. Dan tebal setiap langit itu perjalanan lima ratus tahun. Dan antara langit ketujuh dan Arsy ada lautan yang antara bawah dan atasnya tingginya seperti antara langit dan bumi. Dan Allah –ta’ala- berada di atasnya. Tidak ada amal-amal bani Adam yang tersembunyi atas-Nya.” Hadis ini diriwayatkan Abu Daud dan selainya.

(Kitab at Tauhid. Baca Fath al Majid Syarh Kitab at Tauhid:515)

Abu salafy berkata:

Demikianlah Imam Besar Wahhâbi menghiasi kitab Tauhidnya yang ia tulis untuk memurnikan ajaran Tauhid dari unsur-unsur kemusyrikan, bid’ah dan khurafat… Tapi coba kita teliti hadis kebanggaan Imam Besar Wahhâbi ini, agar dapat kita ketahui sejauh mana ilmu dan penguasaannya terhadap ilmu hadis yang merupakan sumber utama kedua ajaran Islam setelah Al Qur’an?

Pertama-tama yang menggelikan kita ialah ternyata hadis ini adalah hadis mawdhu’ alias “hadis-hadisan” bukan hadis beneran… ia hadis palsu. Para perawinya adalah para pemalsu, pembohong, lemah dan majhûl/misterius.

Anda pasti terkejut mendengar pernyataan saya ini. Tetapi inilah kenyataannya.

Mari kita baca komentar para pakar ilmu Rijâl yang berkecimpung dalam dunia penelitian para perawi.

Para parawi cacat dalam mata rantai sanad riwayat di atas antara ialah:

o Yahya ibn al ‘Alâ’. Para ulama telah mencacatnya.

Wakî’ ibn al Jarrâh berkata tentangnya:

يكذب

”Ia sering berbohongg.”

Imam Ahmad berkata tentangnya:

كذاب يضع الحديث

“Seorang kadzdzâb/pembohong besar, gemar memalsu hadis.”

Umar ibn al Fallâs dan Imam Bukhari berkata:

متروك الحديث

“Ditinggalkan/dibuang hadisnya.”

Ibrahim al Jauhari berkata:

شيخ واهٍ

“Seorang syeikh yang lemah.”

Untuk lebih lengkapnya baca: al Kâmil Fi adh Dhu’afâ’ ar Rijâl,7/198 nomer 2104 dan al Kasyfu al hatsîts ‘Amman Rumiya Bi wadh’il Hadîts:280 nomer 840.

o Sammâ’ ibn Harb. Tentangnya para ulama berkomentar seperti di bawah ini:

Abdullah ibn Mubarak berkata:

ضعيف الحديث

“Lemah hadisnya.”

Ibnu Hibban kendati mentsiqahkannya hanya saja ia berkata demikian:

يخطئ كثيراً !

“Banyak salah.”

Sufyan ats Tsauri berkata:

ضعيف

“Lemah.”

Ibnu Jarir berkata:

أتيت سماك بن حرب فرأيته يبول واقفاً

“aku mendatangi Sammâk ibn Harb lalu aku saksikan ia kencing sambil berdiri.”

Demikian pula Syu’bah yang digelaari Amirul Mukmini dalam ilmu hadis mendha’ifkannya.

Lebih lanjut baca al Kâmil Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl,3/460 nomer 875. Ibnu al Jauzi telah memasukkannya dalam kitab adh Dhu’afâ’ wa al matrûkûn,2/26 nomer1552 dan ia berkata:

كان شعبة ، وسفيان الثوري يضعِّفانه

“Syu’bah dan ats Tsauri mendha’ifkannya.”

Ibnu Ammar berkata:

كانوا يقولون إنه يغلط ويختلفون في حديثه

“Mereka (para ulama)berkata, ‘Ia sring keliru. Dan mereka berselisih tentang hadisnya.”

Ibnu Ma’in berkata:

أسند أحاديث لم يسندها غيره

“Ia sering memusnadkan banyak hadis yang tidak dimusnadkan orang lain.”

Shaleh ibn Muhammad berkata:

يُضعَّف

Ia dilemahkan.”

Abdurrahman ibn Yusuf ibn Kharrâsy berkata:

في حديثه لين

“Pada hadisnya terdapat kelemahan.”

Dan perlu dimengerti bahwa Sammâk ini termasuk yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim akan kemelahannya.

o Abdullah ibn ‘Umair al Kûfi.

Ibrahim al Harbi berkata:

لا أعرفه

“Aku tidak mengenalnya.”

Adz Dzahabi berkata:

لا يُعرَف

“Ia tidak dikenal.”

Al ‘Uqaili dan Ibnu ‘Adiy mendha’ifkannya. Dalam Lisân al Mîzân,7/267 nomer3588 dikatakan:

مجهول

“Ia tidak dikenal.”

Lebih lanjut baca al Kâmil Fi Dhu’afâ al Rijâl,4/232 nomer 1053.

Satu Lagi Kesalahan Imam Besar Wahhâbi!

Selain masalah pada kualitas para parawi yang megitu memalukan untuk dibangakan kecuali oleh seorang awam yang jahil akan seluk beluk periwayat hadis! Ibnu Abdil Wahhâb melakukan kesalahan yang juga cukup memalukan, ketika ia mengatakan bahwa hadis tersebut adalah diriwayatkan Abu Daud, sementara ia adalah hadis bukan Abu Daud. Wahai “Syeikh Agung” Anda salah, hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para muhaddis lain seperti Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Daud, an Nasa’I dan Ibnu Mâjah tidak meriwayatkannya….

Adapun usaha penyelamatan yang dilakukan kaum Mujassimah bahwa ada hadis serupa yang diriwayatkan Abu Daud, maka saya katakana benar! Tetapi coba perhatikan redaksi riwayat tersebut dan lalu bandingkan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمِيرَةَ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ كُنْتُ فِي الْبَطْحَاءِ فِي عِصَابَةٍ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِr فَمَرَّتْ بِهِمْ سَحَابَةٌ فَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ مَا تُسَمُّونَ هَذِهِ قَالُوا السَّحَابَ قَالَ وَالْمُزْنَ قَالُوا وَالْمُزْنَ قَالَ وَالْعَنَانَ قَالُوا وَالْعَنَانَ قَالَ أَبو دَاود لَمْ أُتْقِنِ الْعَنَانَ جَيِّدًا قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا بُعْدُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالُوا لَا نَدْرِي قَالَ إِنَّ بُعْدَ مَا بَيْنَهُمَا إِمَّا وَاحِدَةٌ أَوِ اثْنَتَانِ أَوْ ثَلَاثٌ وَسَبْعُونَ سَنَةً ثُمَّ السَّمَاءُ فَوْقَهَا كَذَلِكَ حَتَّى عَدَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ثُمَّ فَوْقَ السَّابِعَةِ بَحْرٌ بَيْنَ أَسْفَلِهِ وَأَعْلَاهُ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ فَوْقَ ذَلِكَ ثَمَانِيَةُ أَوْعَالٍ بَيْنَ أَظْلَافِهِمْ وَرُكَبِهِمْ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ عَلَى ظُهُورِهِمُ الْعَرْشُ مَا بَيْنَ أَسْفَلِهِ وَأَعْلَاهُ مِثْلُ مَا بَيْنَ سَمَاءٍ إِلَى سَمَاءٍ ثُمَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ ذَلِكَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي سُرَيْجٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي قَيْسٍ عَنْ سِمَاكٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ سِمَاكٍ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاه.

Hadis ini juga sama dengan hadis sebelumnya, ia gelap gulita, batil daan dipalsukan atas nama Rasulullah saw. pada sanadnya terdapat banyak perawi bermasalah.

o Al Walîd ibn Abi Tsaur, nama lengkapnya al Walîd ibn Abdullah ibn Abi Tsaur al Handâni al Kûfi. ia seorang kadzdz^ab/pembohong besar, munkarul hadîts. Demikian ditegaskan para pakar dan ahli hadis. Lebih lanjut baca adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkûn, dan at taqrîb-nya Ibnu Hajar,2 nomer 7458.

o Abdullah ibn ‘Umair al Kûfi. Seperti telah lewat dijelaskan. Selain itu Imam Bukhari telah mengeaskan bahwa ‘Umair ini tidak terbutki pernah mendengar hadis dari al Ahnaf.

o Amr ibn Qais. Adz Dzahabi berkata:

له أوهام

“Banyak punya kesalahan dalam hadis.”

Abu Daud mengatakan:

في حديثه خطأ

“pada hadisnya banyak terjadi kesalahan.”

o Sammâk ibn Harb. Telah lewat dibicarakan.

Sementara itu hadis/riwayat ini dengan segala permasalahan dan kebatilannya hanya divonis tidak lebih dari sekedar dha’if saja oleh tokoh hadis kebanggaan kaum Wahhâbiyah; Syeikh Nashiruddin al Albani.

Demikianlah telaah singkat atas hadis andalan Imam Besar Wahhâbiyah; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb. Dan darinya dapat Anda ukur sejauh mana penguasaannya terhadap dasar-dasar ajaran agama Islam… dan dengannya pula dapat Anda perkirakan apa yang disimpulkan oleh akal dangkal sepertim itu.

Penutup:

Sepertinya Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb hendak memberikan penutup indah kitab kebanggaannya itu dan sekaligus mengucapkan salam perpisahan dengan para pengikutnya yang menjadi sasaran doktrin kitab tersebut dengan hadis palsu.

Sungguh luar biasa sebuah perpisahan yang mengesankan!

Dan selain kesalahan di atas, masih banyak kesalahn dan bahkan kecurangan lain dalam bab tersebut yang insyaallah dengan izin dan taufiq Allah akan kaami paparkan dalam kesempatan lain. Kami harap para Wahhabiyyun sabar menanti datangnya waktu shubuh itu!

أليس الصبح بقريب؟!

Wallahu A’lam.


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: