Posted by: bankwahabi | November 26, 2007

Bolehkah Bertawassul dalam Berdoa?

Oleh: Syamsuri Rifai

Tawassul artinya menjadikan wasilah atau plantara. Tawassul adalah
menjadikan wasilah untuk mencapai hajat dan tujuan. Tawassul dalam
berdoa adalah menjadikan suatu sebagai wasilah dalam doa dan
permohonan kepada Allah swt.

Di sini perlu ditegaskan bahwa tawassul tidak berarti “menuhankan”
atau “menyembah”. Jangan menyalah-pahami atau membelokkan makna
tawassul. Di dalam hadis2 Nabi saw dijelaskan bahwa tawassul ada dua
macam: tawassul dengan zat (diri) dan tawassul dengan kedudukan atau
hak Rasulullah saw dan para kekasih Allah swt.

Dasar2 Qur’ani tentang Tawassul:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَ جَهِدُوا فى سبِيلِهِ
لَعَلَّكمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
carilah wasilah kepada-Nya, dan bersungguh-sungguhlah di jalan-Nya
agar kamu menjadi orang-orang yang beruntung.” (Al-Maidah: 35).

وَ للَّهِ الأَسمَاءُ الحُْسنى فَادْعُوهُ بهَا
“Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah kepada Allah melalui
melaluinya (nama-namanya).” (Al-A’raf: 180)

أَنَّ اللَّهَ يُبَشرُك بِيَحْيى مُصدِّقَا بِكلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah membahagiakan kamu dengan/melalui Yahya, yang
membenarkan kalimat yang datang dari Allah.” (Ali-Imran: 39).

يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشرُكِ بِكلِمَةٍ مِّنْهُ اسمُهُ الْمَسِيحُ عِيسى ابْنُ مَرْيَمَ
“Wahai Maryam, sesungguhnya Allah membahagiakan kamu melalui suatu
kalimat yang datang dari-Nya namanya Al-Masih Isa bin Maryam.”(Ali-
Imran: 45)

Tawassul di dalam hadis2 Nabi saw:
Hadis Pertama: Tawassul dengan diri Nabi saw:

Dalam suatu riwayat disebutkan: Utsman bin Hanif datang kepada
Rasulullah saw agar beliau mendoakan kepada Allah swt. Kemudian
beliau menyuruhnya berwudhu’ dan melakukan shalat dua rakaat dan
berdoa sebagai berikut:

اللهم اني اسألك واتوجه اليك بنبيك نبي الرحمة، يا محمد اني اتوجه بك
الى ربي في حاجتي لتقضى. اللهم شفعه في.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu
dengan/melalui nabi-Mu nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, denganmu
aku menghadap kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku. Ya Allah,
jadikan dia (Muhammad) pemberi syafaat bagiku.”

Dalam kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah, Zaini Dahlan mantan mufti besar
Mekkah mengatakan bahwa hadis ini shahih, diriwayatkan oleh Ibnu
Majah, Al-Hakim dalam Mustadraknya, dan As-Suyuthi dalam kitab
Jami’nya.

Hadis tersebut terdapat di dalam:
1. Sunan Ibnu Majah 1: 441, hadis ke 1385.
2. Musnad Ahmad 4: 138.
3. Mustadrak Ash-Shahihayn, Al-Hakim An-Naisaburi, jilid 1,
halaman 313.
4. Jami’ Ash-Shaghir As-Suyuthi, halaman 59, mengutip dari At-
Tirmidzi dan Al-Hakim.
5. Al-Tajul Jami’ 1: 286.

Hadis Kedua: Tawassul dengan hak para kekasih Allah
Abu Said Al-Khudri mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

من خرج من بيته الى الصلاة فقال: اللهم اني اسألك بحق السائلين عليك…
“Barangsiapa yang keluar rumah untuk melakukan shalat, maka
ucapkan: `Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang
yang bermohon pada-Mu…” (Sunan Ibnu Majah 1: 256, hadis ke 778).

Hadis ketiga: Tawassul dengan hak Rasulullah saw

Umar bin Khaththab berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

لَمّا أذْنَبَ آدمُ الذنب الَّذي أذْنَبهُ، رَفَعَ رَأسَهُ إلى السَّماء فَقالَ: أسْأَلُكَ بِحَقّ
مُحَمَّد إلاّ غَفَرْتَ لي. فَأوحى اللّه إلَيْهِ: وَ مَنْ مُحَمَّدٌ؟ فَقالَ: تَبارَكَ اسْمُكَ، لَمّا
خُلقْتُ رَفَعْتُ رَأَسي إلى عَرْشِكَ فَإِذا فيهِ مَكْتُوبٌ: لا إله إلاّ اللّه و مُحَمَّدٌ رَسُولُ
اللّه، فَقُلْتُ: إنَّهُ لَيْسَ أحَدٌ أعْظَمُ عِنْدَكَ قَدْراً مِمَّن جَعَلْتَ اسْمَهُ مَعَ اسْمِكَ، فَأوْحى
إليه إنَّهُ آخِرُ النبِيّينَ مِنْ ذُرّيَّتِكَ، وَلَوْلا محمّد لَما خَلَقْتُكَ.
“Ketika Adam melakukan dosa, ia menengadahkan kepalanya ke langit,
lalu berkata: Aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad kecuali Kau
ampuni aku. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: Siapakah Muhammad
itu? Adam berkata: Maha Berkah nama-Mu, ketika Kau ciptakan aku, aku
menengadahkan kepalaku ke Arasy-Mu, maka di Arasy-Mu
tertulis: “Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah.”
Kemudian aku berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih agung
qadarnya di sisi-Mu daripada orang yang namanya Kau jadikan bersama
nama-Mu.” Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya dia
adalah nabi yang terakhir dari keturunanmu, dan sekiranya tidak ada
Muhammad niscaya Aku tidak menciptakan kamu.”

Hadis ini terdapat di dalam:
1. Mustadrak Al-Hakim 2: 615.
2. Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 1/217, atau
tentang surat Al-Baqarah: 37.
3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 1/59, atau
tentang surat Al-Baqarah: 37. ia mengutip dari Ath-Thabrani, Abu
Na’im dan Al-Baihaqi.

Hadis keempat: Tawassul Nabi saw dengan haknya dan hak para Nabi
(as) sebelumnya.

لَما ماتَتْ فاطِمَةُ بِنْت أسَد، دَخَلَ عَلَيْها رَسُولُ الله ـ صلى الله عليه وآله وسلم ـ
فَجَلَسَ عِنْدَ رَأْسِها فَقال: رَحِمَكِ اللّه يا أُمّي بعد أُمّي ثُمَّ دَعا رَسولُ اللّه أُسامَةَ
بن زَيْد و أبا أيُّوبَ الأنصاري وَ عُمَرَ بن الْخَطَابِ وَ غُلاماً أسْودَ يَحْفِرُونَ، فَحَفَرُوا
قَبْرَها، فَلَمّا بَلَغُوا اللَّحْد حَفَرَهُ رَسُولُ اللّه ـ صلّى الله عليه وآله وسلم ـ
بِيَدِهِ وَ أَخْرَجَ تُرابَهُ، فَلَمّا فَرغَ دَخَلَ رَسُولُ اللّه فاضطَجَعَ فيهِ ثُمَّ قالَ: اللّهُ
الَّذي يُحْيي وَ يُميتُ وَ هُوَ حَىٌّ لا يَمُوتُ، إِغْفِرْ لأُمّي فاطِمَةَ بِنْتِ أسَد، وَ وَسِّعْ عَلَيْها
مَدْخَلَها، بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَ الأنبياء الَّذينَ مِنْ قَبْلي .
“Ketika Fatimah binti Asad (Ibunda Ali bin Abi Thalib) meninggal,
Rasulullah saw mendatanginya lalu duduk di dekat kepalanya dan
bersabda: “Semoga Allah merahmatimu wahai ibuku sesudah ibuku.”
Kemudian Rasulullah saw memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub Al-
Anshari, Umar bin Khaththab, dan anak yang berkulit hitam untuk
menggali kuburan. Kemudian mereka menggali kuburannya. Setelah
Rasulullah saw sampai di kuburnya beliau menggalinya dengan
tangannya sendiri dan mengeluarkan tanah darinya. Setelah selesai
menggali kuburan Rasulullah saw masuk ke dalam liang lahadnya
kemudian beliau berbaring di dalamnya, lalu berdoa: “Allah yang
menghidupkan dan mematikan, Dialah Yang Hidup dan tidak mati, ampuni
ibuku Fatimah binti Asad, dan luaskan kuburnya atasnya dengan hak
nabi-Mu dan hak para nabi sebelumku.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir wal-Awsath,
dan Ibnu Hibban dan Al-Hakim, mereka menshahihkan hadis ini. (kitab
Kasyful Irtiyab fit tiba’i Muhammad bin Abdul Wahhab, oleh Sayyid
Muhsin Al-Amin, hlm 321). Juga terdapat dalam kitab Hilyatul Awliya’
oleh Abu Na’im, jilid 3 hlm 121.

Untuk menolak faham wahabiyah, Zaini Dahlan mantan Mufti besar
Mekkah menyatakan dalam kitabnya “Ad-Durar As-Saniyyah” hlm 8: Hadis
ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Jabir, juga oleh Abdul
Bar dari Ibnu Abbas, juga diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam
Hilyatul Awliya’ dari Anas bin Malik, juga oleh Jalaluddin As-
Suyuthi dari semua perawi itu dalam kitabnya Al-Jami’ Al-Kabir.

Doa dan Tawassul Imam Ali bin Abi Thalib (sa):

…بِحَقِّ مُحَمَّد وَ آلِ مُحَمَّد عَلَيْكَ، وَ بِحَقِّكَ الْعَظيمِ عَلَيْهِمْ أنْ تُصَلِّىَ عَلَيْهِمْ كَما أنْتَ
أهْلُهُ وَ أنْ تُعْطِيَني أفْضَل ما أعْطَيْتَ السّائلين مِنْ عِبادِكَ الْماضين مِنَ
المؤْمنينَ، و أفْضَل ما تُعْطي الباقينَ مِنَ الْمُؤمِنينَ…
… Aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad
atas-Mu, dan dengan hak-Mu atas mereka, agar Kau sampaikan shalawat
kepada mereka sebagaimana yang layak bagi-Mu, karuniakan padaku yang
paling utama dari apa yang Kau berikan kepada orang-orang yang
bermohon dari hamba-hamba-Mu yang mukmin yang terdahulu, dan yang
paling utama dari apa yang Kau karuniakan kepada orang-orang mukmin
yang akan datang…” (Shahifah Al-`Alawiyah, hlm 51)

Doa Tawassul Umar bin Khaththab:

إنَّ عُمَرَ بن الخَطّاب كانَ إذا قُحِطُوا اسْتَسقى بِالْعَبّاسِ بن عَبْدِالْمُطَلِبِ ـ رضي
اللّه عنه ـ وَ قالَ: اللّهُمَّ كُنّا نَتَوَسَّلُ إلَيكَ بِنَبِيِّنا فَتُسْقينا، وَ إنّا نَتَوَسَّلُ
إلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنا فاسِقنا.
“Sesungguhnya Umar bin Khaththab jika tidak turun hujan, ia memohon
diturunkan hujan melalui Abbas bin Andul Muthallib (ra), ia berdoa:
Ya Allah, kami bertawassul kepada-Mu dengan nabi kami, maka turunkan
hajan kepada kami, dan kami bertawassul kepada-Mu dengan paman nabi
kami, maka turunkan hujan kepada kami.” (Shahih Bukhari 2: 32, bab
shalat Istisqa’).

Dengan hadis2 tersebut, masihkah ada sebagian kita yang membedakan
antara tawassul dengan Nabi saw ketika beliau masih hidup, dan
sesudah beliau wafat. Yakni, ketika beliau masih hidup boleh
tawassul, dan setelah beliau wafat tawassul tidak boleh dan
musyrik. Maka, apa yang membedakan ruh suci Rasulullah saw atau
kedudukannya yang mulia, saat beliau masih hidup dan sesudah
wafatnya. Jangan dimaknai tasawwul dengan menyembah atau menuhankan.
Dua makna ini sangat jauh berbeda seperti jauhnya langit dan bumi.

Jika memaknai tawassul dengan menyembah atau menuhankan, jelas ini
dilarang dan musyrik, baik Rasulullah saw masih hidup atau sesudah
wafat. Tapi tidak ada seorang pun muslimin yang memaknai tawassul
dengan makna ini.

Jika kita memaknai tawassul atau wasilah dengan makna menyembah atau
menuhankan, maka hukum ini juga berlaku dalam tawassul terhadap hal-
hal yang material seperti minum obat atau vitamin untuk kesehatan;
dunia, uang, materi, atau lainnya untuk kehidupan. Jika hal2 yang
materi boleh dijadikan wasilah untuk mencapai tujuan, dan melarang
hal2 yang non-materi atau ruh suci Nabi saw dan ruh2 suci para
kekasih Allah swt dijadikan wasilah untuk mencapai hajat dan tujuan,
maka bukankah paham dan pemikiran seperti ini termasuk pemikiran
materialistik?

Selain itu, pemikiran seperti ini telah menganggap ayat berikut ini
dimansukh, padahal telah disepakati oleh ulama ahli tafsir bahwa
ayat ini tidak dimansukh, yakni ayat tentang Rasulullah saw dan
pengampunan dosa:

“Sekiranya mereka ketika menzalimi diri mereka (berbuat dosa) datang
kepadamu, lalu mereka memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun
memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka dapati Allah Maha
Menerima taubat lagi Maha Menyayangi.” (An-Nisa’: 64).

Yakni: Apakah ayat ini hanya berlaku di zaman Nabi saw, dan tidak
berlaku sekarang? Siapakah yang memansukh atau menghapus makna ayat
ini? Apakah kita tidak meyakini bahwa ayat ini berlaku sampai
sekarang. Kalau berlaku sampai sekarang, apa maksudnya?

Informasi tentang amalan praktis dan doa-doa pilihan keseharian,
kunjungi:
http://shalatdoa.blogspot.com


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: